Jumat, 15 Agustus 2014

Garis Keras di dalam Keluarga

Anak memang anugerah dari Tuhan yang dititipkan kepada manusia, yang seharusnya manusia berkewajiban untuk merawat anak tersebut sampai Tuhan mengambilnya kembali. Mulai dari janin dalam kandungan, seorang ibu dengan kasih sayangnya merawat sampai bayi itu lahir. Haru dan sayang dirasakan kedua orang tua ketika bayi mereka lahir. Suatu tuntunan agama sampai tuntunan adat dijalankan semaksimal mungkin hanya untuk seorang bayi yang diharapkan bermanfaat ketika besar nanti.

Perjalanan seorang bayi menjadi balita, balita menjadi anak-anak, anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi dewaasa, dan seterusnya sangat ditentukan oleh orang tua. Kedua orang tua dengan kasih sayang, semangat, dan doa diberikan dengan ikhlas untuk anaknya. Tidak terhitung lagi berapa total rupiah untuk menghidupi seorang anak. Seolah anak tak tahu bagaimana caranya ia membalas budi kedua orang tuanya. Setelah anak beranjak menjadi seseorang yang sudah mengenal apa arti sesungguhnya tentang dirinya, hak dan kewajiban khususnya dalam keluarga sangatlah penting didapatkan dan diberikan seorang anak dalam keluarganya.

Bertambahnya usia anak, pemikiran anak juga akan lebih dewasa. Bicara mengenai hak dan kewajiban, seorang anak akan memberikan/ mendapatkan setelah ia tahu apa yang akan dilakukan dalam keluarga seharusnya. Namun, pada zaman sekarang orang tua si A tidak akan sama dengan pemikiran orang tua si B dan si C. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam hal, salah satunya adalah pengalaman/ memori yang didapatkan ketika orang tua masih menjadi seorang anak. Orang tua zaman dahulu umumnya mempunyai pemikiran yang tidak jauh berbeda (dalam orang jawa) khususnya orang-orang daerah pedesaan. Hal tersebut diakibatkan karena dalam suatu desa orang zaman dahulu mempunyai anak banyak, kemudian anak-anak tersebut mempunyai tempat tinggal yang jaraknya tidak jauh dari kakak/ adik (masih satu desa). Kejadian tersebut berulang-ulang terjadi, sehingga pada zaman sekarang orang di daerah pedesaan akan lebih banyak saudara dibandingkan dengan orang di daerah kota. Hal tersebut dapat dilihat ketika musim lebaran, orang yang mudik dari kota ke desa akan  berkunjung ke  saudara-saudaranya yang mana rumah antar saudara memang berjarak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Atmosfir lebaran di desa jauh berbeda dengan keadaan di daerah kota. Di daerah pedesaan nuansa kekeluargaannya sangat kental dirasakan dan dilihat, sedangkan di daerah perkotaan nuansa keluargaan hanya sewajarnya saja. Hal tersebut memang harus dimaklumi karena daerah perkotaan kebanyakan orang-orang pendatang.

Jika dilihat secara kenyataan, hak dan kewajban dalam keluarga tidak jauh berbeda. Dapat diambil contoh dari orang tua yang mencari nafkah merupakan suatu kewajiban, namun anak mendapat uang saku dari orang tua merupakan hak seorang anak. Jelas, anak dan orangtua lebih berakal yang tua maka sudah sewajarnya apabila orangtua ingin dihormati, mereka harus mengajari anaknya bagaimana sopan santun dalam keluarga, lebih simpelnya orang tua harus menyayangi anaknya. Apabila rasa sayang telah muncul, rasa cinta orang tua kepada anak akan muncul juga. Dengan rasa sayang dan cintanya orang tua kepada anaknya, mereka akan lebih memperlakukan anak dengan baik. Setelah anak beranjak dewasa, ia mulai memahami cara hidup di dalam keluarga. Seiring betambahnya usia, anak akan lebih tambah berakal sehingga kasih sayang dan cintaiberikan orang tua akan ia balas dengan kasih sayang dan cinta yang lebih.

Bagaimana jika kita lihat dari sisi sebaliknya? Orang tua yang mengaku sayang dan cinta kepada anak namun tidak ditunjukkan dengan sikap. Orang tua yang hanya mau hasil baik, tetapi sikap di dalam keluarga yang seenaknya. Sebagai seorang anak melihat orangtuanya demikian, anak akan menganggap itu perbuatan yang tidak benar. Dan bagaimana cara anak membalasnya? Seolah dengan reflek, anak akan bersikap tidak baik pula dengan orangtuanya.

Menyangkut pemikiran orang zaman dahulu, bagaimanapun juga perkataan orangtua memang harus selalu benar. Anak mau tidak mau memang harus selalu patuh pada orangtua. Bertambahnya ilmu pengetahuan dan teknologi setiap tahunnya, pemikiran anak akan selalu bertambahnya karena wawasan yang luas mudah mereka dapatkan dengan berbagai inovasi yang semakin maju. Dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang, sebagai penerus bangsa memnag seharusnya orangtua mendukung dan mengarahkan menuju hal yang positif. Namun, orangtua biasanya melarang/ membatasi pemikiran anaknya. Suatu tan apapun pasti ada baiknya dan pasti ada buruknya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan sisi positifnya dan berusaha mengembangkan pemikiran kita. Apabila anak terus-terusan dibatasi, pemikiran kreatif tidak akan berkembang sempurna. Akibatnya keingintahuan anak kurang dan anak biasanya tidak betah dirumah. Anak akan mencari tempat dimana ia bisa mengembangkan keingintahuan mereka tanpa dibatasi orangtua. Hal tersebut apabila terus menerus akan mengakibatkan komunikasi anak dan orangtua terhambat, dan kreatifitas yang dikembangkan anak di luar lingkungan keluarga tanpa pengawasan orangtua akan melenceng.

Maka dari itu, sebagai seorang anak memang sudah sewajarnya patuh kepada orang tua namun juga kita tidak bisa hanya patuh dan patuh eperti budak. Kenyataan, orang pintar akan kalah dengan orang kreatif. Zaman sudah jauh berbeda, dengan lugas anak harus memberikan pemahaman kepada orang tua. Sebagai orangtua juga sudah seharusnya melihat masa yang sesungguhnya, jangan menengok ke belakang hanya untuk bals dendam. Kewajiban-kewajiban memang harus dijalankan, menghormati orangtua itu sudah sepantasnya, tetapi bagaimana dengan orang tua yang tidak menyayangi anaknya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar